MANUSIA SEBAGAI INDIVIDU, KELUARGA, DAN MASYARAKAT

Dosen Pengampu :
Baiti Rahmawati, M.Sos
Penyusun:
Fellin Meylinda
Viviana (B04219013)
Fia Al
Islamiyyah (B04219014)
Fiqsal Maulana
A. (B04219015)
D1
PROGRAM
STUDI MANAJEMEN DAKWAH
FAKULTAS
DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang
telah memberikan kemudahan dan kelancaran pada kami dalam menyelesaikan tugas
denga tepat waktu.
Makalah ini membahas tentang Individu,Keluarga dan Masyarakat. Di dalam
pembahasan tersebut berisikan mengenai pengertian, macam - macam, faktor-faktor,
ayat , bentuk-bentuk, ciri-ciri, dan contoh yang berkaitan dengan manusia
sebagai individu, manusia sebagai keluarga serta manusia sebagai masyarakat.
Terima kasih kami ucapkan yang sebesar –
besarnya kepada teman – teman kami yang telah membantu memberikan semangat dan
kepada Bapak Robert yang telah membukakan pintu perpustakaan dari pukul 8 pagi
hingga pukul 5 sore sehingga dapat membantu kami dalam mencari berbagai macam
referensi untuk penulisan pada tugas makalah kami ini.Serta tidak lupa juga
kepada Ibu Baiti Rahmawati selaku dosen mata kuliah ilmu alamiah dasar,ilmu
sosial dasar dan ilmu budaya dasar yang telah membimbing.mengarahkan kami dalam
menyelesaikan tugas mata kuliah ini dengan tepat.
Bagaimanapun dalam penulisan maklah ini
jika terdapat sebuah kesalahan maupun kekurangan maka kami mohon maaf yang
sebesar – besarnya dan tidak lupa kami meminta saran atau pun masukan mengenai
tugas makalah ini agar kedepannya makalah kami
bisa lebih baik.
DAFTAR
ISI
Kata
Pengantar...........................................................................1
Daftar
Isi....................................................................................3
- Manusia
Sebagai Individu
1. Pengertian
Individu..................................................5
2. Aspek
Kepribadian Individu....................................7
3. Faktor
Pertumbuhan Individu................................10
4. Tahap
Pertumbuhan Individu.................................13
- Manusia
Sebagai Keluarga
1. Pengertian
Keluarga...............................................18
2. Macam
Fungsi Keluarga........................................19
- Manusia
Sebagai Masyarakat
1. Pengertian
Masyarakat...........................................27
2. Unsur
dalam Masyarakat.......................................30
3. Bentuk
– Bentuk Masyarakat.................................34
4. Tingkatan
dalam Masyarakat.............................35
5. Faktor
dalam Masyarakat...................................36
6. Tugas
Manusia Sebagai Masyarakat......................37
7. Tafsir
Surah At-Taubah Ayat 71.......................38
Daftar
Pustaka...................................................................40
INDIVIDU
A.
Manusia Sebagai Individu
1.
Pengertian Individu
Kata “individu“ berasal dari kata latin
yakni individiuum ( in = tidak, devide = terbagi ) yang memiliki arti “
yang tak terbagi “, jadi merupakan suatu sebutan yang dapat dipakai untuk
menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan terbatas,individu bukan berarti
manusia sebagai suatu keseluruhan yang tak dibagi melainkan sebagai kesatuan
yang terbatas yaitu sebagai manusia perorangan sehingga sering disebut dengan “orang
seorang“ atau “ manusia perorangan “.[1]
Manusia sebagai makhluk individu memiliki unsur jasmani dan rohani,unsur
fisik dan psikis,serta unsur raga dan jiwa yang satu sama lainnya tidak dapat
dipisahkan. Seseorang dikatakan sebagai makhluk individu yaitu manakala unsur –
unsur tersebut menyatu dalam dirinya.
Individu dalam hal ini juga memiliki suatu
perbedaan manusia perseorangan dengan lainnya bukan hanya disebabkan oleh
pembawaan saja akan tetapi juga melalui konteks dengan dunia yang telah
memiliki sejarah dengan peradabannya seperti bahasa, agama, budaya, adat – isti
adat, kebiasaan, norma, dan ilmu pengetahuan. Semua aspek tersebutlah yang akan
dilalui oleh setiap individu untuk menuju kedewasaan atau kematangannya serta hal tersebut akan diikuti oleh generasi
– generasi berikutnya, oleh karena itu tidak
heran jika tiap individu yang satu berbeda dengan individu yang lainnya.
Tidak hanya
itu saja, manusia juga memiliki suatu karakteristik yang khas dari seseorang biasanya disebut dengan
“kepribadian”. Setiap orang memiliki suatu kepribadian yang berbeda – beda yang dapat dipengaruhi oleh faktor bawaan dan faktor lingkungan yang saling berinteraksi secara
berkelanjutan.Menurut Sumaatmadja,
mengemukakan bahwasanya kepribadian adalah keseluruhan perilaku individu
sebagai hasil interaksi antara potensi –
potensi yang terbawa
sejak lahir dengan rangkaian situasi lingkungan.[2]
Wujud kepribadian seseorang bisa
dilihat melalui tindakan atau perbuatannya dan reaksi mental
psikologisnya di lingkungan sekitarnya.
2. Adapula aspek–aspek
kepribadian menurut Abin Syamsuddin, mengemukakan sebagai berikut :
A. Karakter : Konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika
perilaku,konsisten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat.
B. Tempramen
: Cepat lambatnya reaksi seseorang terhadap rangsangan – rangsangan yang datang
dari lingkungan.
C. Sikap
: Perilaku seseorang terhadap objek yang bersifat positif ataukah negatif.
D. Stabilitas
emosi : Suatu Kadar kestabilan reaksi emosional tiap individu terhadap
rangsangan dari lingkungan.Misalnya mudah tidaknya seseorang tersinggung,
marah, sedih, atau putus asa.
E. Responsibilitas
atau tanggung jawab : Kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau
perbuatan yang dilakukan. Misalnya tidak melarikan diri dari resiko yang
dihadapi.
Manusia dikatakan menjadi makhluk individu apabila pola tingkah lakunya
sudah bersifat spesifik atau didalam tindakan - tindakannya telah menjurus
kepada kepentingan pribadi dan bukan lagi mengikuti tingkah laku yang umum. Sebaliknya, apabila
di dalam tindakan – tindakannya terdapat suatu hubungan dengan manusia lainnya
maka manusia tersebut dikatakan sebagai makhluk sosial.
Pengalaman menunjukan atau bahkan dapat dijadikan suatu teori untuk
melihat tingkat individu dalam masyarakat seperti “jika
seseorang pengabdiannya kepada dirinya sendiri besar, maka pengabdiannya kepada
masyarakat kecil.Akan tetapi, jika seseorang pengadiannya kepada dirinya sendiri kecil
maka pengabdiannya kepada masyarakat akan semakin besar.”Dengan demikian
seseorang tersebut bisa dikatakan termasuk kedalam golongan individual atau ke golongan sosial.
Dalam kenyataan hidup di tengah – tengah masyarakat, setiap warga
masyarakat yang wajar adalah menyesuaikan tingkah lakunya menurut situasi
aktual yang dihayatinya, mengadaptasikan dengan situasi lingkungan dimana ia
berada. Peranan yang paling tepat ialah jika ia mampu bertindak multi peranan,
peranan silih berganti, ia harus mampu memerankan diri sebagai individu dan
juga sebagai anggota masyarakat.
Dalam arti sosial sebuah keberhasilan seseorang dalam mempertemukan
titik optimum yang berbeda yakni peran individu dan peran sosial disebut
seseorang telah sampai pada tingkat “matang” atau “ dewasa”.Tingkat “matang”
atau “dewasa” dalam arti sosial disini tidaklah diukur melalui tingkat
usia,tinggi besarnya fisik,melainkan dilihat melalui tingkat cara berfikir
seseorang itu sendiri apakah cara berfikir seseorang tersebut berfikir secara
dewasa ataukah secara kanak – kanak.[3]
3. Adapun
faktor – faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dalam tiap individu ,diantaranya
:
A. Pendirian Nativistik
Menurut para ahli dari golongan ini
berpendapat, bahwasanya suatu pertumbuhan individu itu semata–mata ditentukan
oleh faktor yang dibawa sejak lahir.Para ahli dari golongan ini juga
menunjukkan berbagai kemiripan antara
orang tua dengan anaknya.[4]
Contoh
: Seorang ayah memiliki keahlian di bidang seni dan lukis maka kemungkinan
besar kelak anaknya juga akan mempunyai hal yang sama seperti ayahnya tersebut
yakni menjadi seorang pelukis.
Akan
tetapi,hal tersebut akan menimbulkan keragu-raguan apakah kesamaan yang ada
antara orang tua dan anaknya benar-benar disebabkan oleh pembawaan sejak lahir
ataukah mungkin karena adanya fasilitas-fasilitas atau hal-hal lain yang dapat
memberikan dorongan lain untuk menuju ke arah yang lebih baik dan maju.
B. Pendirian Emperistik dan Environmentalistik
Pendirian
ini berlawanan atau menolak mengenai
pendapat nativistik dikarenakan menurut dari para ahli lain
berpendapat,bahwa suatu pertumbuhan individu semata-mata tergantung pada
lingkungan dan konsekuensinya hanya lingkunganlah yang banyak dibicarakan bukan
bakat yang ia miliki.Apabila konsepsi ini dapat tahan uji (benar) akan
dihasilkan manusia-manusia ideal asalkan dapat disediakan kondisi yang
dibutuhkan untuk usaha itu sendiri.Akan tetapi,dalam kenyataannya sangat banyak
kita jumpai di lingkungan sekitar kita.
Contoh
:
Banyak
diantara anak - anak orang kaya atau orang pandai yang selalu mengecewakan
orang tuanya, dikarenakan tidak berhasil dalam belajarnya walaupun fasilitas
yang diperlukan telah tersedia secara lengkap.Namun sebaliknya,pada anak-anak
dari orang tua yang kurang mampu lebih sangat berhasil dalam belajar walaupun
fasilitas belajar yang dimiliki sangatlah minim jauh dari mencukupi.
Menurut faham ini di dalam pertumbuhan
individu itu baik dari segi bakat ataupun lingkungan,kedua-duanya sangat
memegang peranan penting. Bakat sebagai kemungkinan ada pada masing-masing
individu namun bakat yang dimiliki itu perlu diserasikan dengan lingkungan yang
dapat tumbuh dengan baik.
Contoh
: Pada anak normal yang
memiliki bakat ingin berdiri tegak
dengan kedua kakinya dan jika anak
tersebut diasuh dalam lingkungan manusia kemungkinan anak tersebut akan bisa
berdiri tegak dengan kedua kakinya secara baik dan normal.Akan tetapi, apabila
anak yang normal tersebut kebetulan terlantar atau dilantarkan di sebuah hutan
kemudian anak tersebut diasuh oleh serigala kemungkinan anak tersebut akan
meniru tindakan dari serigala itu sendiri dan tidak dapat berdiri tegak pada
kedua kakinya serta anak tersebut akan merangkak seperti halnya serigala yang
mengasuhnya.
4. Tahap
– tahapan pertumbuhan individu berdasarkan psikologi diantaranya :
A. Masa Vital
Pada masa
ini pertama kali tiap individu mengenal
alat pencernaan yakni mulut dikarenakan saat itu tiap individu masih belum bisa
merasakan makanan yang enak atau tidak,termasuk khususnya individu yang masih
berusia sekitar 2 tahun. Namun, pada
tahun kedua anak mulai belajar berjalan dan menguasai ruang yang ada
disekitarnya.
B.
Masa Estetik
Masa estetik ini dianggap sebagai masa
pertumbuhan yang berupa rasa keindahan. Sebenarnya
kata estetik diartikan bahwa pada masa
pertumbuhan ini anak mengenal fungsi pancainderanya.Dalam masa ini juga sudah
mulai munculnya gejala kenakalan yang umumnya terjadi antara mulai dari usia 3
tahun sampai umur 5 tahun.Anak sering menentang kehendak orang tua dengan
menggunakan kata - kata kasar,selalu sengaja ataupun tidak disengaja untuk
melakukan perilaku melanggar apa yang dilarang maupun tindakan yang seharusnya
tidak dilakukan. Misalnya seperti anak yang sukanya memukul temannya jika ia
ingin sesuatu,anak yang sukanya mengusil temannya,dan lain sebagainya.Hal yang
demikian itu dilakukannya bukan karena
dia keras kepala melainkan hanya karena ingin mengalami dan ingin menyaksikan akibatnya serta hal tersebut juga dikarenakan kesalahan dari orang tua yang kurang memahami tata
cara mendidik maupun menasehati anaknya seperti kurangnya mengajarkan keadilan,
kurangnya mengajarkan rasa kasih sayang
sesama orang lain, terlalu memanjakan anak, fokus pada hal negatif, dan lain
sebagainya.Lalu bagaimana sikap kita dalam menghadapi anak yang sedang
mengalami masa kegoncangan ini yaitu yang paling bijaksana mengambil jalan
tengah dengan tidak terlalu menekan dan tidak terlalu manjakan anak yang
berlebihan.
C.
Masa Intelektual
Pada masa ini mulai usia dari 7 tahun sampai
kira – kira usia 13 atau 14 tahun. Pada masa ini juga merupakan masa keserasian bersekolah. Masa ini
merupakan masa yang matang untuk dididik daripada masa - masa sebelumnya dan
sesudahnya. Ada beberapa sifat khas pada anak-anak pada masa ini antara lain :
1. Adanya
kecenderungan memuji diri sendiri.
2. Kalau
tidak dapat menyelesaikan sesuatu soal maka soal tersebut dianggap sudah tidak
penting.
3. Senang
membanding – bandingkan dirinya dengan anak lain.
D. Masa
Sosial
Pada masa ini mulai dari usia
13 tahun atau 14 tahun sampai kira-kira usia 18 tahun sampai 30 tahun.Pada masa ini juga sudah mulai mampu
mengambil keputusan, mampu memimpin,dan mampu menyesuaikan diri.Tiap individu
akan mengalami perubahan secara perlahan demi sikap hidup yang idealistik ke
sikap hidup yang realistik.Dengan adanya uraian ini diharapkan adanya suatu
pemahaman mengenai manusia sebagai individu.”Manusia merupakan makhluk
individual tidak hanya dalam arti bahwa tiap-tiapindividu merupakan pribadi
yang khas.”
Individu tidak akan jelas identitasnya tanpa adanya suatu masyarakat
yang menjadi latar keberadaannya. Manusia sebagai individu selalu berada di
tengah-tengah kelompok individu yang sekaligus mematangkannya untuk menjadi
pribadi.[5]
KELUARGA
B.
Manusia Sebagai Keluarga
1.
Pengertian Keluarga
Keluarga merupakan salah satu kelompok primer yang paling penting di
dalam lingkungan masyarakat. Keluarga sendiri merupakan sebuah group yang
terbentuk dari perhubungan antara laki – laki dan wanita.Perhubungan itu
sedikit banyak berlangsung lama untuk mendiptakan dan membesarkan anak – anak.
Jadi, keluarga dalam bentuk yang murni ialah satu kesatuan sosial yang terdiri
dari suami – istri dan anak – anak yang masih belum dewasa.[6]
Menurut Ki Hajar Dewantara sebagai tokoh
pendidikan berpendapat bahwasanya keluarga adalah kumpulan beberapa orang yang
karena terikat oleh satu turunan lalu mengerti dan merasa berdiri sebagai satu
gabungan yang hakiki,esensial,dan berkehendak bersama –sama memperteguh
gabungaan itu untuk memuliakan masing- masing anggotanya.
2. Macam
– macam fungsi keluarga diataranya :
A. Fungsi Biologis
Dengan fungsi perkawinan ini akan terjadi
proses kelangsungan keturunan serta dapat mewujudkan suatu bentuk kehidupan
rumah tangga yang baik dan harmonis.Kebaikan rumah tangga ini dapat membawa
pengaruh yang baik bagi kehidupan bermasyarakat.
B. Fungsi
Pemeliharaan
Dengan fungsi ini keluarga harus siaga
melindungi keluarganya dari berbagai macam penyakit dan selalu menjaga
kesehatan dari masing – masing
keluarganya.
C. Fungsi
Ekonomi
Dengan fungsi ini keluarga harus bisa
menyediakan semua kebutuhan yang diperlukan baik itu kebutuhan
sandang,pangan,maupun papan dengan sebaik mungkin.
D. Fungsi
keagamaan
Dengan fungsi ini,keluarga harus mampu
mendalami tentang ajaran – ajaran agama sebaik mungkin serta mengamalkannya di
dalam lingkungan keluarganya ataupun di
lingkungan masyarakat.
E. Fungsi
Sosial
Dengan fungsi ini, keluarga sendiri harus bisa mengajarkan kepada
anak-anknya kelak mengenai bersosialisasi di lingkungan keluarga khususnya
dilingkungan masyarakat sendiri seperti mengajarkan kepada anak – anaknya
mengenai sopan santun,cara bertingkah laku,cara berbicara kepada orang lain
khususnya kepada yang lebih tua,dan lain sebagainya.
Pembentukan suatu kepribadian dalam
lingkungan keluarga, para orang tua meletakkan dasar – dasar kepribadian kepada
anak – anaknya supaya menjadikan anak cucu kedepannya menjadi pribadi yang
unggul.
Contoh
:
Pada keluarga suku Jawa atau
suku Sunda, seorang anak yang menerima sesuatu pemberian dari orang tua atau
kerabat keluarga, harus menerima dengan menggunakan tangan kanan.Bila anak
menerima dengan tangan kiri, pemberian itu ditarik surut,dan baru setelah anak
menerima dengan tangan kanan pemberian itu benar – benar diberikan.Tindakan
semacam ini merupakan suatu proses mendidik dan membentuk kepribadian dengan
penuh kesadaran dan berencana.Secara bertahap anak –anak juga diajari dan
diberi pengertian mendasar,bagaimana harus bersopan santun,bertingkah
laku,serta bertutur kata yang baik dan tepat terhadap teman – teman
sebaya,orang tua,dan kepada mereka yang patut dihoprmati. Apabila terjadi
penyimpangan – penyimpangan yang telah digariskan, orang tua akan langsung
menegur dan spontan memberitahukan anaknya bahwa hal –hal yang menyimpang dari
tata cara yang telah digariskan adalah tidak benar dan kurang sopan.
Menurut para ahli antropologi,melihat
keluarga merupakan suatu kesatuan sosial terkecil yang dimiliki oleh manusia
yang bersifat sosial.[7]
Pendapat ini didasarkan atas kenyataan bahwa sebuah keluarga adalah suatu kesatuan
berupa kekerabatan yang juga merupakan sebuah tempat tinggal yang ditandai oleh
adanya kerja sama ekonomi,dan mempunyai fungsi untuk berkembang biak,
mensosialisasikan atau mendidik anak serta merawat keluarganya sendiri terutama
kepada kedua orang tua.[8]
Sebuah
keluarga terdiri dari atas seorang laki – laki dan seorang perempuan,serta
ditambah dengan anak – anak mereka yang biasanya tinggal dalam satu rumah yang
sama.Satu kesatuan kelompok dalam sebuah antropologi tersebut dinamakan sebagai
keluarga inti.Suatu keluarga tersebut pada hakekatnya terbentuk oleh adanya suatu
hubungan perkawinan yang sah,tetapi tidak selamanya keluarga inti terwujud
hanya karena telah disahkan oleh suatu peraturan perkawinan. Hal tersebut
dikarenakan banyak sekali dikalangan masyarakat yang sudah berkeluarga tanpa menikah seperti halnya berhubungan tanpa restu kedua orang
tua, berhubungan sebelum dihalal atau biasanya disebut dengan kawin kerbau
(kumpul kebo).[9]
Secara garis besar,tidak selamanya keluarga
itu bisa lengkap.Dalam dunia nyata,banyak masyarakat yang memiliki keluarga
yang kurang lengkap baik itu tidak ada suami atau bisa jadi juga tidak ada
seorang istri.Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yang paling utama
ialah faktor ekonomi.Misalnya,di daerah Kabupaten Tasikmalaya,Jawa
Barat,sebagian besar suami telah meninggalkan anak dan istri mereka didesa
untuk jangka waktu yang cukup lama ialah untuk bekerja di kota Jakarta dan
ditempat – tempat lain yang menghasilkan pendapatan lebih besar dari pada
mereka yang harus tetap tinggal didesanya.Namun, menurut Suparlan bahwasanya
terdapat juga suami – suami yang meninggalkan anak istri mereka pergi ke Negara
lain untuk bekerja seperti halnya orang – orang Turki yang dalam jumlah besar
bekerja sebagai buruh kasar di Eropa Barat,kususnya di Jerman Barat dan Negara
Belanda.Akan tetapi, ada juga di daerah lain yang memiliki keluarga lebih
seperti memiliki istri lebih dari 1,keluarga semacam ini biasanya disebut
dengan perkawinan poligami.Poligami adalah suatu perkawinan yang pasangan –
pasangannya terdiri atas satu orang suami dan dua orang istri atau lebih atau
bisa juga dikatakan dengan sebutan poligini.Sedangkan perkawinan yang pasangan
– pasangan terdiri atas seorang istri dengan dua orang suami atau lebih
dinamakan poliandri.Pola perkawinan semacam ini umumnya sudah berlaku di
Indonesia.[10]
Suatu keluarga inti dapat juga menjadi suatu
keluarga luas dengan danya tambahan dari sejumlah orang lain,baik yang
sekerabat maupun yang tidak sekerabat,yang secara bersama – sama hidup dalam
satu rumah tangga dengan keluarga inti.Kerabat sendiri memiliki arti yakni
oarang yang dianggap atau digolongkan sebagai mempunyai hubungan keturunan atau
darah dengan keluarga inti.
MASYARAKAT
C.
Manusia Sebagai Masyarakat
1.
Pengertian Masyarakat
Dalam bahasa inggris,masyarakat disebut
juga society yang artinya kawan.
Sedangkan kata masyarakat berasal dari kata bahasa arab yaitu syirk yang artinya bergaul. Adanya
saling bergaul tentu ada bentuk – bentuk aturan hidup, yang bukan disebabkan
oleh manusia sebagai perseorangan saja , melainkan unsur – unsur lain dalam
lingkungan sosial yang merupakan kesatuan.[11]
Manusia mulai dari lahir sebagai anggota masyarakat mereka bergaul dan
berinteraksi,karena mereka mempunyai nilai-nilai norma. Dengan demikian bahwa kehidupan
masyarakat berarti adanya interaksi
sosial dengan orang-orang disekitar dan demikian pula mengalami pengaruh orang
lain. Interkasi sosial sangat utama dalam masyarakat,dengan demikian dapat
dikemukakan bahwa masyarakat merupakan kesatuan hidup manusia.
Ralph Linton menyatakan bahwa masyarakat adalah kelompok manusia yang
telah hidup dan bekerja sama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri
mereka dan menganggap diri mereka sebgai kesatuan sesuai dengan batas yang
dirumuskan dengan jelas. Sedangkan menurut Selo sumardjan menyatakan bahwa
masyrakat ialah orang-orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan.[12]
Berikut di bawah ini adalah beberapa
pengertian masyarakat dari beberapa ahli sosiologi dunia yaitu :
A. Menurut
Selo Sumardjan masyarakat adalah
orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.
B. Menurut
Karl Marx masyarakat adalah suatu
struktur yang menderita suatu ketegangan organisasi atau perkembangan akibat
adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terbagi secara ekonomi.
C. Menurut
Emile Durkheim masyarakat adalah
suatu kenyataan objektif pribadi-pribadi yang merupakan anggotanya.[13]
D. Menurut
Paul B. Horton & C. Hunt masyarakat
adalah kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama - sama
dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai
kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok atau kumpulan manusia tertentu.
E. Menurut
Emile Durkheim
Usaha
untuk mengembangkan konsep masyarakat ternyata tidak menghasilkan suatu rumusan
yang seragam. Satu aspek yang tampak disepakati bersama adalah masyarakat yang
menyangkut setiap kelompok manusia yang hidup bersama. Maka dalam usaha
menyamakan pandangan tentang masyarakat ini yang paling penting adalah
memberikan butir-butir dan unsur-unsur yang ada dalam masyarakat itu sendiri.
2. Unsur-unsur
dalam masyarakat sebagai berikut :
A. Manusia
yang hidup bersama
B. Bercampur
atau bersama-sama untuk waktu yg cukup lama
C. Menyadari
bahwa mereka merupakan satu kesatuan
D. Mematuhi
terhadap norma-norma atau peraturan-peraturan yang menjadi kesepakatan bersama
E. Menyadari
bahwa mereka bersam-sama diikat oleh perasaan diantara para anggota yang satu
dengan yang lainnya.
F. Menghasilkan
suatu kebudayaan tertentu
Demikianlah akhirnya bahwa masyarakat mengandung pengertian yang sangat
luas dan dapat meliputi seluruh umat manusia. Masyarakat terdiri atas berbagai
kelompok besar maupun kecil tergantung dalam
jumlah anggotanya. Dua orang atau lebih dapat
merupakan kelompok. Dalam pengelompokan sering dibedakan kelompok primer dan
kelompok sekunder. Dilihat dari fungsinya ada klompok orang dalam (in-group)
dan rang luar (out-group). Semua jenis kelompok diatas hidup dan berkembang ditengah-tengah
masyarakat.
Menurut Soewaryo Wangsanegara (1986 : 33), masyarakat
berdasarkan perkembangan dan pertumbuhannya dapat digolongkan menjadi Masyarakat
sederhana (primitif). Pola pembagian kerja cenderung dibedakan menurut jenis
kelamin yang didasari atas perbedaan kemampuan fisik berupa Masyarakat maju.[14]
Kelompok organisasi kemasyarakatan tumbuh dan berkembang berdasarkan kebutuhan
serta tujuan yang akan dicapai. Masyarakat maju terdiri:
1. Masyarakat
non industri
a. Kelompok
Primer, interaksi antar anggota terjalin intensif karena para anggota sering berdialog
"face to face group".Sifat interaksi bercorak kekeluargaaan dan lebih
berdasarkan simpati. Pembagian kerja tidak secara tegas. Contoh keluarga, RT,
kelompok belajar dan kelompok agama.
b. Kelompok
sekunder, Terdapat interaksi tak langsung, formal dan kurang bersifat
kekeluargaan. Pembagian kerja diatur atas pertimbangan rasional objektif dan
atas kemampuan masing - masing. Contoh organisasi parta politik dan organisasi
profesi.
2.
Masyarakat Industri
Jika
pembagian kerja bertambah komplek, suatu tanda bahwa kapasitas masyarakat
semakin tinggi. Solidaritas didasarkan pada hubungan saling ketergantungan
antara kelompok yang telah mengenal
pengkhususan yakni kepandaian
atau keahlian khusus yang dimiliki seseorang secara mandiri sampai batas
tertentu.
Sedangkan
Menurut J.L Gilin mengatakan bahwa masyarakat adalah kelompok manusia yang
terbesar,mempunyai kebiasaan seperti kebiasaan, tradisi,sikap,dan perasaan
persatuan yang sama.
Adapun unsur dari masyarakat ialah :
a. Harus
ada kelompok manusia
b. Telah
berjalan dalam waktu yang lama dan bertempat tinggal dalam daerah tertentu
c. Adanya
aturan undang-undang yang mengatur mereka untuk maju bersama kepada satu
cita-cita yang sama.
3. Bentuk
– bentuk masyarakat diantaranya :
A. Masyarakat Paguyuban (gessel
schaft).
PJ Bourman
menjelaskan masyarakat paguyuban adalah suatu persekutuan mnusia yang disertai
perasaan setia kawan dari hati ke hati dan keadaan kolektif yang besar,
sehingga perpisahan dalam kelompok ini sangat tidak disenangi.
Ciri-cirinya :
a.
Pola berkorban demi kebersamaan
b. Pemenuhan hak tidak selamanya dikaitkan dengan kewajiban.
c.
Solidaritas yang tinggi.
B. Masyarakat patembangan (gesel schaft)
PJ. Bourman mengibaratkan seperti
tumpukan pasir yang tiap-tiap butirnya dapat terpisah dari yang lain.
Keterikatan antara satu dengan yang lain hanya dalam satu tujuan sehingga sifat
keakurannya masih sangat menonjol. Adapun ciri-cirinya :
a.
Pemenuhan hak selalu dikaitkan dengan
kewajiban.
b.
Solidaritas tidak terlalu kuat.
4.
Tingkatan - tingkatan masyarakat
diantaranya :
A. Masyarakat Tradisional.
Masyarakat tradisonal sebagai bentuk dari kehdupan bersama, mempunyai
keterkaitan hidup bersama yang sangat erat
dengan lingkungan hidupnya,
mereka sangat bergantung pada manusia dan alam dengan mata pencaharian yang berpusat pada petanian dan nelayan dalam memenuhi
kebutuhan sandang, pangan, dan papan mereka
bergantung pada alam karena kesederhanaan teknologi yang mereka miliki. Modal yang paling menonjol
adalah pemilk tanah sehingga banyak tuan - tuan tanah pada masyarakat tradisional dan melahirkan
elit masyarakat yang feudal dengan kepemimpinan otokritas. Selain
itu, kebersamaan antara mereka juga sangat kuat dalam membentuk persaudaraan.
B.
Masyarakat modern
Adalah pola perkembangan dari masyarakat
tadisional yang telah mengalami kemajuan dala berbagai aspek kehidupan,kalau
pada masyarakat tradisisonal dikenal sebagai zaman agraris lain halnya dengan
masyarakat modern, zaman ini lebih dikenal dengan zaman industrialis karena
segala usaha dan kebutuhan manusia lebih memadukan antara sumber daya alam
dengan sumber daya manusia dengan menggunakan teknologi disamping itu
terciptanya berbagai industri diberbagai belahan dunia dengan operator profesional,
sehingga menghasilkan barang yang lebih berkualitas.
5. Faktor – faktor dalam masyarakat
diantaranya:
a.
Beranggotakan minimal 2 orang.
b.
Anggotanya sadar sebagai satu kesatuan.
c.
Berhubungan dalam waktu yang cukup lama yang menghasilkan manusia baru yang saling
berkomuniksi dan membuat aturan-aturan hubungan antar anggota masyarakat.
d.
Menjadi sistem hidup bersama yang menimbulkan
kebudayaan serta keterkaitan satu sama lain sebagai anggota masyarakat.
Berikut ciri – ciri masyarakat yang baik
menurut Marion Levy diperlukan 4
kriteria yang harus dipenuhi agar sekumpulan manusia bisa dikatakan sebagai
masyarakat yaitu :
a.
Ada sistem tindakan utama.
b.
Saling setia pada sistem tindakan utama.
c.
Mampu bertahan lebih dari masa hidup seorang anggota.
d.
Sebagian atau seluruh anggota baru didapat dari kelahiran atau reproduksi
manusia.
6.
Tugas manusia sebagai masyarakat yaitu :
a.
Saling tolong menolong dan membantu dalam kebajikan.
b.
Ikut meringankan beban kesengsaraan orang lain.
c.
Menjaga dan memelihara keamanan, ketentraman, serta ketertiban lingkungan
masyarakat.
d.
Menghindari perkataan dan
tindakan yang meyakitkan orang lain sehingga tercipta ketergantungan yang menguntungkan.
7. Tafsir Al-Qur’an mengenai manusia
sebagai makhluk sosial dikalangan lingkungan masyarakat tertera dalam
Al-Qur’an dalam surat At-Taubah ayat 71:
وَالْمُؤْمِنُونَ
وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ
عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللّهَ
وَرَسُولَهُ أُوْلَـئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّهُ إِنَّ اللّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ-٧١-
Artinya:
Dan orang - orang mukmin laki - laki dan
orang-orang mukmin perempuan, sebagian mereka menjadi para penolong bagi
sebagian yang lain. Mereka menyuruh yang ma’ruf, mencegah perbuatan yang munkar, melaksanakan shalat secara
berkesinambungan, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah
serta Rasul-Nya. Mereka itu akan dirahmati Allah.
Sesungguhnya, Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana
{71}.[15]
DAFTAR PUSTAKA
Suhada,Idad dkk, Ilmu Sosial
Dasar,(Bandung:Remaja Rosdakarya,2016),60
Suhada,Idad dkk, Ilmu Sosial
Dasar,(Bandung:Remaja Rosdakarya,2016),61
Tasmuji dkk,Ilmu Alamiah Dasar,Ilmu
Sosial Dasar dan Ilmu Budaya Dasar,(Surabaya: MKD UIN Sunan Ampel,2019),92
Suhada, Idad dkk, Ilmu Sosial
Dasar,(Bandung:Remaja Rosdakarya,2016), 38
Arnicum
aziz dan Hartono, MKDU: Ilmu Sosial Dasar,(Jakarta: PT.Bumi Aksara,
Cet.VII.2008),79
Tasmuji
dkk,Ilmu Alamiah Dasar,Ilmu Sosial Dasar dan Ilmu Budaya Dasar ,(Surabaya:
MKD UIN Sunan Ampel,2019),94
Tasmuji
dkk,Ilmu Alamiah Dasar,Ilmu Sosial Dasar dan Ilmu Budaya Dasar ,(Surabaya:
MKD UIN Sunan Ampel,2019),95
Tasmuji
dkk,Ilmu Alamiah Dasar,Ilmu Sosial Dasar dan Ilmu Budaya Dasar ,(Surabaya:
MKD UIN Sunan Ampel,2019),97
Tasmuji
dkk, IlmuAlamiahDasar, IlmuSosialDasar dan Ilmu Budaya Dasar,(Surabaya:
MKD UIN Sunan Ampel,2019),98
Tasmuji
dkk, Ilmu Alamiah Dasar,Ilmu Sosial Dasar dan Ilmu Budaya Dasar, Surabaya:
MKD UIN Sunan Ampel,2019),99
Arnicum aziz dan Hartono,Ilmu
Sosial Dasar,(Jakarta:Bumi Aksara,1993),63
Ahmadi,Abu,IlmuSosialDasar,(Semarang:Rineka
Cipta,1990), 96
Munandar,Soelaeman,Ilmu
Sosial Dasar,(Jakarta:Refika Aditama,2006)
Semarang,”Perkembangan
Individu”http://www.researchgate.net/publication/323028558diaksesbulan:November
2013.
Jakarta,”SuratAt-Taubah”https://www.dusturuna.com/quran/71
diaksesbulan:Juni 2018.
[1] Idad Suhada dkk, Ilmu Sosial
Dasar,(Bandung:Remaja Rosdakarya,2016), 60
[2] Idad Suhada dkk, Ilmu Sosial
Dasar,(Bandung:Remaja Rosdakarya,2016), 61
[3] Tasmuji dkk,Ilmu Alamiah
Dasar,Ilmu Sosial Dasar dan Ilmu Budaya Dasar,(Surabaya: MKD UIN Sunan
Ampel,2019),92
[4] Idad Suhada dkk, Ilmu Sosial
Dasar,(Bandung:Remaja Rosdakarya,2016), 38
[5] Semarang,”Perkembangan
Individu”http://www.researchgate.net/publication/323028558diaksesbulan:November
2013.
[6] Hartono dan Arnicum aziz, MKDU:
Ilmu Sosial Dasar,(Jakarta: PT.Bumi Aksara, Cet.VII.2008),79
[8] Tasmuji dkk,Ilmu Alamiah
Dasar,Ilmu Sosial Dasar dan Ilmu Budaya Dasar,(Surabaya: MKD UIN Sunan
Ampel,2019),94
[9] Tasmuji dkk,Ilmu Alamiah
Dasar,Ilmu Sosial Dasar dan Ilmu Budaya Dasar,(Surabaya: MKD UIN Sunan
Ampel,2019),95
[10] Tasmuji dkk,Ilmu Alamiah
Dasar,Ilmu Sosial Dasar dan Ilmu Budaya Dasar,(Surabaya: MKD UIN Sunan
Ampel,2019),97
[11] Tasmuji dkk,Ilmu Alamiah
Dasar,Ilmu Sosial Dasar dan Ilmu Budaya Dasar, (Surabaya: MKD UIN Sunan
Ampel,2019),98
[12] Tasmuji dkk,Ilmu Alamiah
Dasar,Ilmu Sosial Dasar dan Ilmu Budaya Dasar, Surabaya: MKD UIN Sunan
Ampel,2019),99
[13] Hartonodan Arnicun Aziz,Ilmu
Sosial Dasar,(Jakarta:Bumi Aksara,1993), 63
[14]AbuAhmadi,IlmuSosialDasar,(Semarang:RinekaCipta,1990),96
[15]Jakarta,”SuratAt-Taubah“https://www.dusturuna.com/quran/71
diaksesbulan:Juni 2018.